https://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/issue/feedJournal of Architecture Cultural and Tourism Studies 2026-05-26T21:17:14+07:00Atika Candra Yuliajacts@utp.ac.idOpen Journal Systems<p>JACTS (Journal of Architecture, Cultural, and Tourism Studies) adalah jurnal ilmu berkala yang diterbitkan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober oleh program Studi Arsitekrtur Universitas Tunas Pembangunan Surakarta.<br>Jurnal ini berfokus pada bidang arsitektur, kebudayaan, dan pariwisata.<br>JACTS merupakan media untuk mempublikasikan hasil penelitian ilmiah mahasiswa, akademisi, praktisi, dan pemerhati bidang arsitektur.<br>Setiap artikel yang diterbitkan diharapkan dapat memberikan wawasan dan menginspirasi kemunculan ide arsitektur yang berwawasan budaya.</p> <p>E ISSN 2987-4246</p>https://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/5455PUSAT PAMERAN SENI BUDAYA POPULER DAN CREATIVE HUB DI YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK2026-05-26T21:17:08+07:00Daffa Muhammad Jauzzadaffamuhjauza12@gmail.comEny Krisnawatieny.krisnawati@lecture.utp.ac.id<p>Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan di Indonesia, dengan kekayaan tradisi yang berpadu dengan dinamika perkembangan zaman. Perkembangan budaya populer <em>(pop culture) </em>yang mencakup musik, film, komik, fashion, dan media digital telah menciptakan kebutuhan akan ruang khusus yang mampu mengakomodasi ekspresi kreatif generasi muda sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Namun, sebagian besar museum dan pameran di Yogyakarta masih berfokus pada seni rupa klasik dan budaya tradisional, sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi budaya populer. Penelitian ini mengkaji urgensi dan potensi pembangunan Pusat Pameran Seni Budaya Populer dan <em>Creative Hub</em> di Yogyakarta, yang dirancang sebagai ruang kolaboratif, edukatif, dan kreatif bagi seniman, komunitas, pelajar, dan pelaku industri kreatif. Melalui pendekatan desain biofilik, fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kreativitas pengguna, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya lokal dalam bingkai globalisasi. Pusat ini akan menyediakan ruang pamer, area pertunjukan, fasilitas kerja bersama, dan program pendukung seperti pelatihan, lokakarya, serta wadah pemasaran karya seni. Hasil perancangan diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem seni dan budaya di Yogyakarta, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi kreatif, menciptakan peluang kerja, dan menjembatani kesenjangan antara budaya tradisional dan budaya populer.</p>2026-05-26T16:00:30+07:00Copyright (c) 2026 Daffa Muhammad Jauzza, Eny Krisnawatihttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/5461PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL DAN GEDUNG ARSIP DI SUKOHARJO2026-05-26T21:17:08+07:00Saed Agil Al Nur'rohmansaedagilalnurrohman64340@gmail.comAbito Bamban Yuuwonoabito.yuwono@lecture.utp.ac.id<p class="Abstrak" style="text-indent: 36.0pt;"><span lang="IN" style="font-size: 11.0pt;">Perkembangan teknologi informasi mendorong perpustakaan untuk melakukan transformasi layanan melalui pendekatan berbasis inklusi sosial. Pendekatan ini menjadikan perpustakaan tidak hanya sebagai tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang mendukung literasi, pendidikan, pengembangan keterampilan, serta peningkatan kualitas hidup. Di Kabupaten Sukoharjo, kebutuhan akan fasilitas perpustakaan dan gedung arsip yang representatif semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah pengunjung setiap tahun, sementara fasilitas yang tersedia saat ini masih terbatas. Selain itu, arsip memiliki peran penting sebagai sumber informasi, memori kolektif, alat pengawasan, serta bukti pertanggungjawaban kelembagaan. Perancangan bangunan menggunakan pendekatan Arsitektur High Tech yang menonjolkan ekspos struktur, penggunaan material modern, serta sistem utilitas bangunan sebagai bagian dari estetika arsitektur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan observasi lapangan. Hasil perancangan diharapkan mampu menciptakan fasilitas perpustakaan dan arsip yang modern, aksesibel, edukatif, serta mampu mewadahi aktivitas masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan.</span></p>2026-05-26T16:12:46+07:00Copyright (c) 2026 Saed Agil Al Nur'rohman, Abito Bamban Yuuwonohttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/5479HOTEL, CONVENTION AND EXHIBITION YANG AKOMODATIF BERPENDEKATAN ARSITEKTUR FUTURISTIK DI SEMARANG 2026-05-26T21:17:09+07:00Irfan Fadilahiganslor@gmail.comDedi Iskandardedi.iskandar@lecture.utp.ac.id<p>Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan, jasa, dan pariwisata di Pulau Jawa. Dengan jumlah penduduk hampir dua juta jiwa serta kawasan metropolitan Kedungsepur yang mencapai enam juta jiwa, Semarang menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Tingginya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara memperkuat potensi pengembangan sektor <em>Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition</em> (MICE). Namun, fasilitas eksibisi di Semarang masih terbatas, umumnya memanfaatkan ballroom hotel atau pusat perbelanjaan yang kapasitas dan fasilitasnya kurang memadai. Berdasarkan RTRW Kota Semarang 2011–2031 serta RPJMD 2021–2026, terdapat rencana pengembangan kawasan perdagangan dan jasa, termasuk fasilitas pameran dan konvensi. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan Semarang <em>Expo and Convention Center</em> dengan pendekatan desain arsitektur futuristik yang mampu mewadahi berbagai kegiatan berskala lokal hingga internasional. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan daya tarik pariwisata, memperluas lapangan kerja, serta menjadikan Semarang sejajar dengan kota metropolitan lain di Indonesia.</p>2026-05-26T16:26:15+07:00Copyright (c) 2026 Irfan Fadilah, Dedi Iskandarhttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/5501JOGJA TECHNOPARK YANG REKREATIF DENGAN PENDEKATAN GREEN ARCHITECTURE2026-05-26T21:17:09+07:00Feri Suryaningtyassuryaningtiyas12@gmail.comRully Rullyrully@lecture.utp.ac.id<p>Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai pusat pendidikan, budaya, dan kreativitas di Indonesia dengan ekosistem UMKM dan startup yang terus berkembang. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM DIY (2023), terdapat lebih dari 250.000 unit UMKM aktif yang berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selain itu, komunitas startup di bidang teknologi, pendidikan, kuliner, dan industri kreatif juga mengalami pertumbuhan pesat, terutama dari generasi muda yang berorientasi pada inovasi. Namun, perkembangan ini belum diimbangi dengan ketersediaan fasilitas fisik yang memadai. Keterbatasan akses pembiayaan, minimnya co-working space, kurangnya laboratorium riset, serta belum terintegrasinya ruang rekreatif menjadi hambatan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Penelitian ini bertujuan merancang Jogja Technopark sebagai pusat inovasi UMKM dan startup dengan mengintegrasikan konsep rekreatif dan pendekatan Green Architecture. Konsep rekreatif dihadirkan untuk mendorong interaksi, kreativitas, dan relaksasi, sedangkan Green Architecture diterapkan untuk menciptakan desain yang hemat energi dan berkelanjutan. Diharapkan, Jogja Technopark dapat menjadi model kawasan inovasi yang produktif, ramah lingkungan, dan dapat direplikasi di daerah lain.</p>2026-05-26T16:39:07+07:00Copyright (c) 2026 Feri Suryaningtyas, Rully Rullyhttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/5502OPTIMASI SIRKULASI INTERMODA PADA PERANCANGAN TERMINAL WISATA KEMUNING SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI TERPADU2026-05-26T21:17:10+07:00Rosyida Alawiyah Sutotorosyidaa3@gmail.comTri Hartantotri.hartanto@lecture.utp.ac.id<p>Terminal wisata berperan penting sebagai sarana pendukung sistem transportasi dan ruang transit bagi wisatawan, khususnya di kawasan wisata yang memiliki keterbatasan aksesibilitas. Kawasan Kemuning sebagai destinasi wisata unggulan menghadapi berbagai tantangan, seperti kondisi jalan yang sempit dan terjal bagi bus berukuran besar, minimnya lahan parkir, serta keterbatasan fasilitas terminal yang ada. Terminal Wisata Kemuning saat ini hanya memiliki luas lahan ±200 m² dengan area parkir ±120 m², sehingga belum mampu beroperasi secara optimal dalam mendukung kebutuhan wisatawan. Perancangan terminal wisata yang terintegrasi dengan ruang publik diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan kualitas pengalaman wisata, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal melalui peluang usaha dan lapangan kerja. Penelitian ini merumuskan desain terminal wisata yang menggabungkan fungsi ruang transit dan ruang publik dengan pendekatan desain berkelanjutan, meliputi penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan limbah, dan pelestarian ekosistem alam. Hasil perancangan diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kemuning serta memperkaya kajian arsitektur dalam desain infrastruktur pariwisata berbasis lingkungan dan kebutuhan pengguna.</p>2026-05-26T19:45:58+07:00Copyright (c) 2026 Rosyida Alawiyah Sutoto, Tri Hartantohttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6101ANALISIS PENGGUNAAN MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN PADA PROYEK PERUMAHAN DI SLEMAN YOGYAKARTA2026-05-26T21:17:10+07:00Muhammad Seto Satriomuhammadseto89@gmail.comWahyu Prabowowahyu.prabowo@lecture.utp.ac.id<p>Kabupaten Sleman, Yogyakarta, merupakan salah satu wilayah dengan perkembangan perumahan yang cukup pesat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan lahan, konsumsi material bangunan, serta pemanfaatan energi yang berpotensi menimbulkan degradasi lingkungan. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, penggunaan material ramah lingkungan menjadi strategi penting untuk menekan dampak negatif tersebut sekaligus meningkatkan kualitas hunian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan material ramah lingkungan pada proyek perumahan di Kabupaten Sleman serta kontribusinya terhadap efisiensi energi dan kualitas lingkungan hunian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi literatur, analisis regulasi bangunan gedung hijau, serta kajian karakteristik material ramah lingkungan yang sesuai dengan iklim tropis lembap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan material lokal, material bersertifikat, dan material rendah emisi berpotensi menurunkan dampak lingkungan, mengurangi konsumsi energi, serta meningkatkan kenyamanan termal bangunan. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan material ramah lingkungan pada perumahan di Sleman dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung arsitektur berkelanjutan dan implementasi kebijakan bangunan hijau di Indonesia.</p>2026-05-26T20:06:20+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Seto Satrio, Wahyu Prabowohttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6112KAJIAN PENATAAN KAWASAN KOTA LAMA PASAR GEDE SURAKARTA: LINGKUNGAN, AKSESIBILITAS, DAN HERITAGE2026-05-26T21:17:11+07:00Yobel Bagus Haryonoyobellharyono@gmail.comAtika Candra Yuliaatikacandra.yulia@lecture.utp.ac.id<p>Penataan Kawasan Kota Lama Pasar Gede di Surakarta dihadapkan pada isu rumit terkait lingkungan, kemudahan akses, serta konservasi warisan budaya. Kajian ini menyoroti upaya optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH), perbaikan drainase, dan penanganan sampah pada Koridor Kali Pepe yang berperan krusial menyambungkan pusat niaga bersejarah dengan alur sungai kota. Metode penelitian melibatkan pemetaan spasial berbasis GIS, observasi lapangan kolaboratif bersama warga, serta penilaian kebijakan RPJMD Surakarta periode 2021-2026. Hasil utama menunjukkan genangan air musiman meliputi 70% wilayah akibat drainase rusak, penanganan sampah yang terfragmentasi memicu polusi Kali Pepe, dan cakupan RTH baru 12% dari standar minimal, yang mempersulit akses pejalan kaki serta menggerus esensi heritage arsitektur kolonial. Rekomendasi mencakup pengembangan RTH bertingkat dan memanjang di koridor (dengan target kenaikan 25%), pemulihan drainase bio-retensi yang selaras heritage, plus mekanisme pengelolaan sampah komunal berteknologi IoT. Secara keseluruhan, kajian menyimpulkan bahwa strategi terpadu di Koridor Kali Pepe mampu memperkuat ketahanan ekologis, aksesibilitas ramah semua pihak, dan kelestarian heritage, sejalan dengan cita-cita Surakarta sebagai kota warisan yang berkelanjutan.</p>2026-05-26T20:25:08+07:00Copyright (c) 2026 Yobel Bagus Haryono, Atika Candra Yuliahttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6512DINAMIKA TERITORI DAN RUANG PERSONAL DALAM TRANSFORMASI HUNIAN PASCABENCANA2026-05-26T21:17:11+07:00Annisa Oktareangga Dheanyoktareangga@gmail.comAkbar Preambudiakbar.preambudi@gmail.com<p class="Abstrak"><span lang="IN">Rumah bantuan pascabencana umumnya dirancang sebagai hunian standar yang memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal dalam waktu singkat. Namun, dalam jangka panjang, rumah tersebut sering mengalami perubahan spasial sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika </span><em><span lang="IN">territory</span></em><span lang="IN"> dan </span><em><span lang="IN">personal space</span></em><span lang="IN"> pada rumah bantuan pascagempa di kawasan Tembi, Yogyakarta, melalui analisis perubahan denah rumah dari kondisi awal hingga kondisi saat ini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam terhadap penghuni, dokumentasi, serta rekonstruksi denah berdasarkan tahapan renovasi. Sampel penelitian terdiri atas tujuh rumah bantuan di RT 4 dan RT 8 yang dipilih menggunakan </span><em><span lang="IN">purposive sampling</span></em><span lang="IN">. Analisis dilakukan secara deskriptif melalui pendekatan longitudinal spasial untuk memahami hubungan antara transformasi ruang dan perilaku penghuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan rumah berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh kebutuhan domestik, fungsi sosial, serta budaya lokal. Penambahan teras, ruang tamu, dan dapur menjadi pola perubahan dominan yang mencerminkan pembentukan zona publik, semi publik, dan privat. Sementara itu, ruang tidur menunjukkan kebutuhan </span><em><span lang="IN">personal space</span></em><span lang="IN"> yang berkaitan dengan privasi penghuni. Temuan ini menunjukkan bahwa rumah bantuan berkembang menjadi hunian adaptif yang merepresentasikan kebutuhan sosial dan perilaku penghuni. </span></p>2026-05-26T20:41:50+07:00Copyright (c) 2026 Annisa Oktareangga Dheany, Akbar Preambudihttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6570KAJIAN KONSEP PERANCANGAN FASHION SPACE DI YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR2026-05-26T21:17:12+07:00Titis Aprilia Cahyanititisapriliafeiza@gmail.comLukas Bimo Pramonolukasbimo@upy.ac.idAldrin Febriansyahaldrin@upy.ac.id<p>Perkembangan industri fashion di Yogyakarta menunjukkan potensi besar sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Namun, keterbatasan fasilitas yang mampu mewadahi promosi, edukasi, dan kolaborasi pelaku fashion menyebabkan perkembangan fashion lokal belum optimal. Penelitian ini bertujuan merancang Fashion Space di Yogyakarta dengan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular yang mampu mendukung aktivitas kreatif sekaligus menerapkan prinsip desain hemat energi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deduktif melalui studi literatur, observasi tapak, analisis iklim, analisis aktivitas pengguna, dan penerapan prinsip Neo Vernakular pada desain bangunan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa strategi hemat energi diterapkan melalui orientasi bangunan yang merespons matahari dan arah angin, penggunaan secondary skin, pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi peneduh, serta pemanfaatan material lokal yang adaptif terhadap iklim tropis. Pendekatan tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap pencahayaan dan penghawaan buatan sekaligus menciptakan kenyamanan termal bagi pengguna. Selain menjadi pusat fashion kreatif, bangunan juga merepresentasikan identitas budaya lokal melalui reinterpretasi elemen arsitektur tradisional secara kontemporer. Dengan demikian, Fashion Space diharapkan menjadi ruang kreatif yang berkelanjutan, hemat energi, dan mendukung perkembangan ekosistem fashion di Yogyakarta.</p>2026-05-26T20:52:07+07:00Copyright (c) 2026 Titis Aprilia Cahyani, Lukas Bimo Pramono, Aldrin Febriansyahhttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6571PERANCANGAN RESORT BINTANG 4 DI KAWASAN PEGUNUNGAN MENOREH KULON PROGO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK2026-05-26T21:17:13+07:00Yanu Dwi Aviyantoyanudwiavianto@gmail.comEka Widyaningsihekawidyaningsih@upy.ac.idAldrin Febriansyahaldrin@upy.ac.id<p>Perkembangan pariwisata di kawasan Pegunungan Menoreh meningkat seiring pembangunan Jalur Bedah Menoreh dan konektivitas menuju Yogyakarta International Airport. Namun, ketersediaan akomodasi berstandar tinggi di kawasan tersebut masih terbatas sehingga durasi tinggal wisatawan relatif singkat. Penelitian ini bertujuan merancang resort bintang empat dengan pendekatan arsitektur biofilik yang mampu menghadirkan pengalaman relaksasi sekaligus menerapkan prinsip desain hemat energi. Metode yang digunakan berupa pendekatan deduktif melalui studi literatur, observasi tapak, analisis iklim, analisis aktivitas pengguna, serta penerapan prinsip biofilik dan desain pasif pada bangunan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa strategi hemat energi diterapkan melalui orientasi massa bangunan mengikuti kontur dan arah angin, penggunaan ventilasi silang, pencahayaan alami, skylight, roof garden, vegetasi peneduh, serta material alami lokal seperti kayu dan batu alam. Pendekatan biofilik juga diterapkan melalui integrasi lanskap alami, ruang semi terbuka, dan visual panorama Pegunungan Menoreh untuk meningkatkan kenyamanan termal dan psikologis pengguna. Penerapan strategi tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi buatan sekaligus menciptakan resort yang adaptif terhadap iklim tropis dan berkelanjutan.</p>2026-05-26T21:01:47+07:00Copyright (c) 2026 Yanu Dwi Aviyanto, Eka Widyaningsih, Aldrin Febriansyahhttps://ejournal.utp.ac.id/index.php/JACTS/article/view/6572OPTIMALISASI KENYAMANAN TERMAL DAN EFISIENSI ENERGI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR TROPIS PADA PERANCANGAN EDUWISATA SUSU SAPI DI PAKEM, SLEMAN2026-05-26T21:17:14+07:00Dhorika Husniawandhorikahusniawan123@gmail.comRachmat Wahyu Praboworachmat@upy.ac.idLuluk Rani Puspitalulukrani@upy.ac.idAldrin Febriansyahaldrin@upy.ac.id<p>Perancangan eduwisata susu sapi di Kecamatan Pakem dilakukan sebagai upaya integrasi antara fungsi edukasi, produksi, dan rekreasi dalam satu kawasan berbasis arsitektur tropis. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan yang tidak hanya responsif terhadap iklim, tetapi juga menerapkan prinsip desain hemat energi melalui sistem utilitas dan infrastruktur bangunan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui analisis tapak, studi preseden, serta perancangan arsitektural dan utilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi desain hemat energi diterapkan melalui optimalisasi pencahayaan alami, ventilasi silang, pemanfaatan material lokal, serta sistem utilitas yang efisien seperti penggunaan lampu LED, pengelolaan air hujan, dan sistem distribusi air berbasis gravitasi. Selain itu, integrasi lanskap dan ruang terbuka hijau berperan dalam menciptakan mikroklimat yang mendukung kenyamanan termal secara pasif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan arsitektur tropis yang dikombinasikan dengan sistem utilitas yang efisien mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi buatan serta meningkatkan keberlanjutan kawasan eduwisata.</p>2026-05-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Dhorika Husniawan, Rachmat Wahyu Prabowo, Luluk Rani Puspita, Aldrin Febriansyah