KAJIAN KONSEP PERANCANGAN FASHION SPACE DI YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR

  • Titis Aprilia Cahyani Universitas PGRI Yogyakarta
  • Lukas Bimo Pramono Universitas PGRI Yogyakarta
  • Aldrin Febriansyah Universitas PGRI Yogyakarta
Keywords: Fashion Space, Arsitektur Neo-Vernakular, Yogyakarta, ruang kreatif, identitas budaya

Abstract

Perkembangan industri fashion di Yogyakarta menunjukkan potensi besar sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Namun, keterbatasan fasilitas yang mampu mewadahi promosi, edukasi, dan kolaborasi pelaku fashion menyebabkan perkembangan fashion lokal belum optimal. Penelitian ini bertujuan merancang Fashion Space di Yogyakarta dengan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular yang mampu mendukung aktivitas kreatif sekaligus menerapkan prinsip desain hemat energi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deduktif melalui studi literatur, observasi tapak, analisis iklim, analisis aktivitas pengguna, dan penerapan prinsip Neo Vernakular pada desain bangunan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa strategi hemat energi diterapkan melalui orientasi bangunan yang merespons matahari dan arah angin, penggunaan secondary skin, pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi peneduh, serta pemanfaatan material lokal yang adaptif terhadap iklim tropis. Pendekatan tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap pencahayaan dan penghawaan buatan sekaligus menciptakan kenyamanan termal bagi pengguna. Selain menjadi pusat fashion kreatif, bangunan juga merepresentasikan identitas budaya lokal melalui reinterpretasi elemen arsitektur tradisional secara kontemporer. Dengan demikian, Fashion Space diharapkan menjadi ruang kreatif yang berkelanjutan, hemat energi, dan mendukung perkembangan ekosistem fashion di Yogyakarta.

References

. Andi, A., Rahmawati, D., & Prasetyo, R. (2024). Perkembangan fashion sebagai gaya hidup generasi Z di Indonesia. Jurnal Industri Kreatif, 6(1), 45– 56.

. Astuti, R., & Kurniawati, S. (2021). Penguatan UMKM fashion berbasis budaya lokal dalam menghadapi persaingan global. Jurnal Ekonomi Kreatif, 4(2), 101–112.

. Carima, N. (2023). Tantangan branding produk fashion lokal dalam menembus pasar nasional hingga internasional. Jurnal Manajemen Bisnis Kreatif, 5(1), 23–34.

. Ching, D. K. (2007). Architecture: Form, Space, and Order (3rd ed.). John Wiley & Sons.

. Fajrine, R., Putra, A., & Lestari, D. (2017). Penerapan arsitektur neo vernakular pada bangunan komersial. Jurnal Arsitektur Nusantara, 9(2), 67–78.

. Gwilt, A. (2014). A practical guide to sustainable fashion. Bloomsbury Publishing.

. Hendariningrum, R. (2008). Fashion sebagai bagian dari gaya hidup dan identitas sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 15–24.

. Kersenna, A., & Chaouche, M. (2018). Neo-vernacular architecture: Identity and modernity. Journal of Architecture and Urbanism, 42(1), 14–23.

. Lakebo, M., Nugroho, A., & Santosa, B. (2019). Neo vernacular architecture as cultural continuity in contemporary design. Journal of Asian Architecture, 11(3), 55–63.

. Leadbeater, C. (2010). The art of collaborative creativity. Earthscan.

. Nisa, S., & Handayani, T. (2025). Prinsip arsitektur neo vernakular dalam konteks desain kontemporer. Jurnal Arsitektur Tropis, 7(1), 1–12.

. Okonkwo, U. (2007). Luxury fashion branding: Trends, tactics, techniques.

. Palgrave Macmillan.

. Pemerintah Kota Yogyakarta. (2024). Profil Kota Yogyakarta sebagai kota budaya dan kreatif. https://www.jogjakota.go.id

. Salma, N. (2023). Ruang kreatif sebagai wadah pengembangan industri fashion lokal. Jurnal Desain dan Industri Kreatif, 5(2), 88–97.

. Widi, R., & Prayogi, A. (2020). Arsitektur postmodern dan perkembangan neo vernakular di Indonesia. Jurnal Riset Arsitektur, 8(1), 41–52.

Published
2026-05-26
Section
Articles